Monday, October 15, 2012

Perlukah Ujian Nasional ? (gak usah aja donk :(

Hal menakutkan yang paling ditakuti oleh para pelajar di Indonesia saat ini adalah "Ujian Nasional". Jika sudah mendengar istilah UNAS, pasti raut wajah tegang dan debar jantung berpacu sangat kencang, khususnya bagi pelajar yang saat ini sudah kelas 6, X, dan XII. Mereka mati-matian berusaha sekuat pikiran mereka untuk bersiap menghadapi ujian nasional yang hanya akan berlangsung 3-4 hari di April mendatang. Usaha dari diri sendiri dan dari pihak sekolah dengan cara les, tambahan pelajaran, dll, hanya untuk menghadapi hari H yang siap menghajar para pelajar ini layaknya di medan perang. Lalu, apakah adilkah cara seperti ini ?

Sangat ironi memang, usaha 3 tahun pelajar-pelajar ini hanya dibayar dalam waktu 3-4 hari. Perjuangan mereka menempuh pendidikan yang berlangsung 3 tahunan ini hanya diukur dengan test ujian yang berlangsung 3 hari ? Luar biasakah Indonesia ini ?


Apakah harus ujian nasional sebagai penentu kelulusan siswa ? Sebenarnya ini bukan untuk memajukan pendidikan di negeri ini, namun justru hanya akan menjadi momok tiap tahunnya. Tak sedikit siswa yang gagal lulus dan harus mengulang tahun depan atau malah mengikuti kejar paket. Dan tahu sendiri bila mengikuti kejar paket maka untuk melanjutkan ke sekolah atau pergururan tinggi pasti hanya swastalah yang akan menerimanya. 

Hal tragis lain juga menimpa para siswa yang gagal lulus dalam ujian nasional, mereka ada yang stress, deprese, malu dengan teman-temannya dan bahkan ada yang sampai mengakhiri hidupnya hanya karena kegagalan UNAS. Sungguh malang nasib para pelajar di Indonesia ini jika penentu nasib kelulusan mereka hanya pada satu hal, yaitu UNAS.

Yang tak kalah menyedihkan, di sekolah-sekolah di daerah plosok juga deterapkan sistem yang sama dan dengan bobot soal yang sama, apa tidak salah ? Bangunan sekolah saja tidak memadahi, guru pengajar minim, apa di daerah terisolasi seperti ini juga diterapkan Ujian Nasional dengan bobot yang sama dengan sekolah-sekolah yang sudah memenuhi standar. Apa pemerintah begitu teganya melihat anak bangsa yang diancam dengan peraturan pemerintah sendiri ?

Memang, sekarang sudah lebih ringan dengan mencantumkan nilai raport sebagai penentu kelulusan selain UNAS, dengan perbandingan 60% UNAS dan 40% nilai raport. TETAPI, paket soal dibuat sampai 5 paket dan tiap hari diacak (itu pas UNAS saya kemaren). Lalu bukankah ini juga akan menyulitkan siswa juga ? Dijamin, tak mungkin dalam UNAS siswa tidak mencontek, mereka pasti memiliki kesadaran dan memiliki semboyan demikian "MASUK BERSAMA, KELUAR JUGA HARUS BERSAMA-SAMA", saya juga pernah mengalami dan itu memang benar. Apa dengan memberikan paket yang begitu banyaknya demikian hanya bertujuan untuk membuat siswa stress ? Ini benar-benar membuat bingung dengan jalan pikiran pemerintah.

Menurut saya pribadi, UNAS tidak apa-apa untuk dilakukan karena itu juga dapat bermanfaat untuk mengukur kemampuan belajar siswa selama mereka menempuh pendidikan, TAPI....jangan menjadikan ujian nasional sebagai penentu kelulusan. Kasihan para pelajar kita, harus tegang, mati-matian belajar sampai lupa segalanya, tidur kurang, makan kurang, hanya untuk menghadapi 3-4 hari ujian. 

Jadi, mohon buat Bapak/Ibu mentri pendidikan yang terhormat, tolong jangan jadikan ujian nasional sebagai penentu kelulusan. Kasihan adek-adek saya yang SD, SMP, dan SMA yang sekarang sudah mulai menghadapi ketegangan untuk menghadapi UNAS tahun depan.

Makasih juga buat teman-teman ku yang sudah mau menjadi foto tema di artikel ini, semoga diberi pahala oleh Alloh..hehe..

No comments:

Post a Comment